Friday, January 27, 2012
Himbauan Kepada Orang Tua Mengenai Kartun yang Ditonton Oleh Anak
Friday, February 11, 2011
Ingin menjadi Presiden RI? Milikilah segera Perusahaan Media
Menjadi Pengusaha Media, memang enak. Selain bisa punya uang banyak, Media Baron juga bisa punya peluang besar menjadi penguasa.
Beberapa waktu lalu, bos Metro TV, Surya Paloh, dengan mudah memanfaatkan stasiun televisinya untuk menyiarkan pengukuhan ketua Nasional Demokrat wilayah Bali. Nasional Demokrat sendiri adalah organisasi bentukan Surya Paloh yang katanya bercita-cita untuk merestorasi negara ini. Entah dengan cara apa.
Melihat hal ini, saya jadi teringat dengan film James Bond ke 18, Tomorrow Never Dies. Dalam film ini, Elliot Carver sebagai pemilik perusahaan Media terkenal, Carver Media Group Network (CMGN) berhasil memprovokasi perang antara China melawan Inggris. Walaupun akhirnya berhasil digagalkan oleh the one and the only, Mr James Bond, namun kekuatan Media memang tidak bisa dipungkiri terutama kekuatannya untuk menggulingkan kekuasaan.
Tindak tanduk Surya Paloh untuk menjadi penguasa nomor 1 Negara Kesatuan Republik Indonesia ini melalui kekuatan perusahaan medianya memang belum terbukti. Namun, jikalau beliau berhasil, maka ini bisa jadi pelajaran buat siapa saja yang hendak menjadi presiden RI:
MILIKILAH SEGERA PERUSAHAAN MEDIA.
Tuesday, April 14, 2009
Termehek-mehek: Reality Show Yang UnReality
Memang bisa dimaklumi kalau uang lagi-lagi jadi alasan. Rumah produksi ingin membuat acara berbiaya rendah tapi laku keras. Orientasi komersial jadi prioritas ketimbang kualitas acara. Karenanya wajar jika sinetron dan (un)reality show masih menjadi primadona. Sekali sinetron digemari, sekuelnya segera dibuat—-karena risikonya lebih kecil daripada harus membuat judul baru. Ketika Playboy Kabel dianggap sukses, maka Katakan Cinta, Truk Cinta, Cinta Monyet, Mak Comblang, Cinta Lokasi, Backstreet, Pacar Pertama, Harap-harap Cemas, Termehek-mehek, dan sebagainya langsung mencuat.
Saya ingin menggarisbawahi kata-kata ini: Karenanya wajar jika sinetron dan (un)reality show masih menjadi primadona.
Tahukah anda kalau Termehek-mehek, acara Reality Show yang mendapat penghargaan itu ternyata oh ternyata 70%-nya adalah rekayasa?
Benar sekali kawan. Kemarin, ketika makan siang, teman saya cerita kalau temannya yang bekerja di sebuah televisi swasta nasional mengungkap bahwa 70% orang yang mencari tokoh yang hilang diacara Termehek-mehek itu tidak pernah diketemukan. Alhasil, dibuatlah rekayasa seolah-olah ditemukan.
Sebetulnya saya tidak ingin percaya. Karena bisa mengurangi rasa nikmat kala menonton Termehek-mehek. Tapi, setelah dipikir-pikir kembali, ada benarnya juga. Kalau disetiap acara selalu ada drama pertengkaran, apakah budaya kita seperti itu? Rasanya terlalu dibuat-buat.
Hmmm... Melihat gelagat ini, rasanya sudah sepatutnya saya tidak lagi angkat topi pada rumah produksi reality show. Selama ini saya selalu mengangap kisah acara reality show adalah benar adanya. Ternyata, seperti yang Nofie Iman bilang, acara REALITY SHOW di televisi swasta nasional adalah acara UNREALITY SHOW... (UN-nya sudah tidak perlu dikurung lagi!)
Saturday, August 23, 2008
Televisi Berbayar Pertamaku
Dari dulu, salah satu impian saya adalah memasang televisi berbayar. Kenapa? Karena saya sudah empet, eneg, bosen, bete, jemu dengan acara televisi lokal yang dipenuhi sintetron sampah, payah, ga masuk akal, tidak mendidik, aneh, ceritanya ngawur dan infotainment yang selebnya pada narsis, bodoh, tolol, berpikiran pendek, so ganteng, so homo(?), dan so so lainnya.Akhirnya, pada hari senin kemarin, rumah saya dengan resmi telah terpasang Indovision! Yahoooo....
Loh, kok Indovision? Katanya penulis bola? Kenapa ga langganan Astro yang ada liga inggrisnya?
Oh, Astro sudah tidak ada lagi liga inggrisnya. Malang sekali nasibmu Astro. Dan itulah keberuntungan saya tidak ikut-ikutan memasang Astro ketika BPL dibajak oleh Astro. Saya menunggu jikalau bakal ada yang ga beres dengan siarannya. Dan ternyata benar! Siaran Liga Inggris pindah ke Aora TV.
Trus, kalau ga Astro, kenapa ga kabelvision? Khan ada internetnya juga.
Waduh. Mau main internet atau mau nonton? Mau istirahat atau mau kerja? Ketakutan saya kalau memasang internet dirumah adalah: saya akan lebih mudah untuk menyibukan diri kembali didepan internet. Dan hal itu sesuatu yang saya hindari demi keharmonisan rumah tangga saya (cie ileee...)
Tapi ini hanya opini saya. Saya tidak bermaksud mempromosikan Indovision adalah lebih baik dari yang lain. Bukan...(takut digebukin orang astro dan kabelvision). Saya hanya melihat tujuan saya memasang televisi berbayar adalah untuk santai, rileks dan... nonton Fashion TV Midnight Hot tentunya, huehehehe...
Monday, August 11, 2008
Mario Teguh, Si Manusia Super
Tokoh yang satu ini sekarang lagi naik daun. Mario Teguh namanya. Bapak berkepala plontos dan kinclong ini muncul di dua saluran televisi, O Channel dan Metro TV.Mario Teguh, yang mengklaim sebagai motivator, selalu menjual 1 kata yaitu “super”. Entah maksudnya apa, apakah kita harus menjadi super dalam segala hal, menjadi super dalam berbisnis, menjadi super dalam memukul lawan, menjadi super dalam menelan kawan untuk kesuksesan, entah lah.
Melihat orang seperti ini, entah kenapa, saya selalu berpandangan sinis. Kenapa? Karena kata-kata yang diungkapkan itu sebetulnya dari dulu juga ada. Dan dengan lihainya, Mario Teguh mengemasnya lagi dan menambah-nambahi sehingga menjadi barang dagangan yang laku dipasar. Kalau kata orang bilang, “Barang lama kemasan baru.”
Walaupun begitu, saya tidak bisa menganggap apa yang dikerjakan Mario Teguh adalah salah. Jelas tidak. Apa yang dilakukan dia sangatlah bagus. Bagus karena orang-orang sudah banyak meninggalkan ajaran agamanya ketika sudah berhadapan dengan kerjaan, dengan karir, dengan bisnis, dengan bos, dengan anak buah. Semuanya hilang. Yang muncul adalah kebon binatang. Adalah maki-maki yang berefek negatif. Dan akan tersadar kembali ketika berhadapan dengan Yang Maha Kuasa dalam doa, dalam Gereja, dalam tempat ibadahnya.
Apa yang dilakukan Mario Teguh sebetulnya sama dengan apa yang dikerjakan para pengkotbah, ustadz, pendeta namun yang menusuk langsung ke orang-orang yang lebih care, lebih peduli, lebih meng-agama-kan pekerjaannya. Kalau saya perhatikan, apa yang diucapkan oleh Mario Teguh, bisa dibilang 90% sama dengan apa yang tertulis oleh Alkitab(Injil). Hanya saja dikemas menjadi barang berjudul: motivasi diri, motivasi pribadi, motivasi berbisnis dan derivatif motivasi-motivasi lainnya.
Jadi intinya, Mario Teguh menjual filosofi-filosofi berbagai macam agama, filsuf terkenal, dikoneksikan dengan kondisi bisnis, kondisi manajemen yang ngetren kemudian dikemas sebagus mungkin untuk menjadi barang bekas berkualitas satu. Ya... Macam The Secret gituh... Tapi beda jurusan.
Kira-kira itu pendapat saya tentang Mario Teguh. Pembaca SUPER punya pendapat lain? silahkan disanggah dengan komentar yang SUPER…
Monday, May 26, 2008
Sinetron Chelsea, sama saja (jeleknya)
Sinetron chelsea, yang saya harapkan bisa berbeda dengan sinetron sampah lainnya, ternyata sama saja. Ceritanya ga jauh berbeda. Bahkan kalau bisa dibilang masih seragam. Seorang wanita miskin dan lemah, diintimidasi oleh yang kaya dengan berbagai cara.Ada dua poin dari ratusan poin kejelekan yang saya tangkap kenapa sinetron Chelsea sama buruknya dengan sinetron lainnya:
1. Penuh dengan kekerasan. Saya tidak habis pikir, kenapa seorang Olivia, bisa diciptakan sebegitu jahatnya. Kenapa tidak dibuat sesosok karakter yang menyebalkan saja, bukan tokoh yang jahat dengan melakukan kekerasan fisik. Contoh karakter yang menyebalkan mungkin bisa mencontoh tokoh Izzie di film serial Grey's Anatomy.
2. Pemilihan tokoh yang ngasal. Tokoh Chelsea dan Lydia, yang keduanya bukan ibu dan anak kandung, malah lebih mirip ketimbang dengan ibu kandungnya Chelsea(lupa namanya).
Dengan demikian, Sinetron Chelsea ternyata sama saja dengan sinetron lain, sama jeleknya.
Ngomong-ngomong, kenapa ngomongin sinetron Chelsea? Karena harapan saya menemukan sinetron yang berbobot hingga hari ini tidak ditemukan. Dan karena itu, saya berharap, sinetron-sinetron yang tidak bermutu dihentikan segera. Kalau bisa, perusahaan yang memproduksi sinetron tidak bermutu segera dibekukan! (Hehehe... Kejam yah).
Wednesday, May 21, 2008
Fight or Flight (Heroes 2)
Saya bukan mau cerita episode "Fight or Flight" di serial Heroes 2, hanya sengaja nyomot judul salah satu episode buat judul review Heroes 2 ini. Soalnya "Fight or Flight" adalah judul paling aneh dan ga nyambung.Libur kemarin, selain dah nyelesain baca Cintapuccino, saya juga nyelesain serial Heroes keduax. Session Pertamax sih dah lama selesai ditonton.
Kelebihan film serial ini adalah ceritanya yang kompleks dan maju-mundur-maju-mundur alias dibikin bingung. Hal ini memang disengaja oleh si pencipta, Tim Kring, supaya menjadi beda dengan film superheroes lainnya yang mudah dicerna dan diterka itu. Katanya sih serial Heroes mengadaptasi dari film Spiderman yang lebih memperlihatkan sisi humanisme dari seorang superhero.
Tapi sayang, karena terlalu disengaja dibuat kompleks, jadi banyak yang ga nyambung. Atau memang saya saja yang ga nyambung? Entahlah. Seperti bekas "gigitan vampire" di leher korban yang menjadikan mereka superhero itu. Apa alasannya dan atas dasar apa dipilih orang-orang tertentu untuk menjadi superhero? Lalu, jika memang superhero-nya dipilih secara sengaja untuk bisa terbang atau bisa punya kemampuan baca pikiran dan lain-lain, kenapa ada organisasi tertentu berusaha untuk menghilangkan kekuatan mereka?
Begitupun dengan kisah Sylar yang ternyata selamat dari kematian. Pertanyaannya, siapa yang berusaha nyembuhin Sylar? Lalu, Kenapa dia bisa di hutan belantara? Padahal kalau dipikir-pikir, apakah Mexico punya hutan belantara seperti dicerita Heroes ini? Aneh.Dengan demikian. Moral of the story yang didapat dari Serial Heroes: Ga ada. Namanya juga cerita superheroes, ga ada pesan yang bisa didapat dari serial ini. Kecuali pikiran yang jadi rileks karena mendapatkan sebuah hiburan.
Wednesday, April 30, 2008
Antara Grey’s Anatomy Dan Pasien di Indonesia
Sampai begitu dekatnya hubungan dokter dengan pasien, sampai-sampai si pasien menasihati dokternya. Sebuah kondisi yang jarang-jarang terjadi di rumah sakit Indonesia. Bagaimana tidak, dokter di Indonesia, sepanjang hari ditunggu-tunggu, tapi ketika nongol, maksimal hanya 5 menit berbicara setelah itu menghilang.
Grey’s Anatomy adalah film serial drama romantis yang dibungkus situasi rumah sakit. Serial percintaan antara dokter full time dan dokter magang. Bahkan ada beberapa episode memperlihatkan percintaan dokter dengan pasien. Sebuah gambaran yang tidak akan pernah didapat di Indonesia.
Grey’s Anatomy sangat bagus dan seharusnya ditonton oleh dokter-dokter di Indonesia, supaya mereka mau bersosialisasi dengan pasiennya. Tidak hanya sekedar datang, diagnosa sebentar lalu pergi. Tapi benar-benar care sama pasiennya. Bahkan, pasiennya tidak mau dioperasi pun, sang dokter memaksa dengan berbagai cara supaya si pasien mau dioperasi dan sembuh dari penyakitnya. Lagi. Sebuah gambaran yang perlu ditiru oleh dokter di Indonesia.
Hingga saat ini, saya sudah menyelesaikan session 2 serial Grey’s Anatomy dan saya tidak bisa berhenti menonton session ke-3 nya. Ceritanya sangat enak dan perlu. Enak karena tidak membosankan dan perlu karena sangat kental ilmu kedokterannya. Bagi kita yang tidak mengerti kedokteran, alhasil akan jadi mengerti sedikit istilah-istilah kedokteran. Dan lagi. Sebuah film serial yang perlu ditonton oleh dokter-dokter di Indonesia.
Hidup pasien!!!
Wednesday, April 23, 2008
Alasan Kenapa Kita Tidak Perlu Membenci Sinetron Cahaya
Sinetron Cahaya adalah salah satu sinetron paling menyebalkan yang pernah ada di pertelevisian Indonesia. Entah gimana, sudah tahu menyebalkan, pihak RCTI tetap saja menyiarkannya. Salah seorang ibu rumah tangga yang tidak bisa saya sebutkan namanya sudah sangat membenci sinetron ini walaupun diawal tayangannya sangat disukai.Biarpun sinetron ini sudah tidak disukai oleh banyak pemirsa, tapi ada beberapa alasan kalau Sinetron Cahaya sebetulnya ada nilai positifnya dan tidak perlu dihujat.
1. Sinetron Cahaya adalah sinetron melodrama. Artinya, sinetron ini cocok buat orang miskin Indonesia yang butuh hiburan dimana dia bisa melepas penderitaannya sejenak. 20 juta lebih masyarakat Indonesia adalah masyarakat miskin dan mereka membutuhkan hiburan berupa mimpi suatu ketika mereka bisa kaya. Sinetron Cahaya penuh sekali kisah si miskin tiba-tiba jadi kaya tanpa memperlihatkan prosesnya. Dan hal-hal seperti ini yang dibutuhkan oleh masyarakat miskin Indonesia untuk memenuhi mimpi mereka sejenak, walau esok paginya harus berjuang susah payah mencari makan lagi entah impian itu bakal terwujud atau tidak.
2. tokoh Satria, yang diperankan oleh Dude Herlino, terlalu emosional. Bahkan berlebihan. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah. Marah kok cuma sedikit? (Halah!). Betul, ada kondisi yang tidak menyenangkan terhadap Cahaya, Satria langsung seolah-olah bak jagoan(mungkin disesuaikan namanya), sok-sok melindungi, dan marah besar. Sangat norak memang. Tapi, hal seperti itu memang seharusnya perlu ditontonkan kepada cowo-cowo Indonesia yang 50% lebih adalah cowo-cowo pemalu. Sikap seperti itu harus ditonjolkan supaya para cowo-cowo Indonesia tidak hanya suka ditindas/pasrah oleh perempuan/atasan ditempat kerja tapi berani melawan.
3. Cahaya, yang diperankan Naysila Mirdad, gampang sekali pindah kelain hati. Ketika Raka, yang dimainkan oleh Glen, pergi ke NTB lalu menghilang dan tidak diketahui juntrungannya, padahal Cahaya harus menikah dengan Raka, Cahaya mau saja didekati oleh Satria. Belum beberapa bulan(berdasarkan cerita tersebut), Cahaya akhirnya menerima cinta Satria dan mereka menikah. Padahal, yang namanya perempuan, ditinggal kekasihnya, dan dia cinta setengah mati, pasti tidak akan serta merta langsung jatuh cinta lagi hanya selang 1-2 bulan. Karena masa-masa itu adalah masa-masa kelabu dan susah untuk melupakan sang kekasih.
Tapi disitulah letak kenapa sikap Cahaya perlu ditiru, khususnya buat para pebisnis yang jatuh bangkrut, dan harus langsung bangkit lagi. Tidak perlu larut dalam kesedihan. Begitupun dengan para profesional yang mengambil sertifikasi, ketika gagal dalam ujian pertama, jangan langsung nyerah, tapi bangkit lagi dan ambil ujian lagi. Ujian kedua kali itu pasti berhasil karena soalnya sudah hapal tinggal mengulang dan mengkoreksi saja.
Kira-kira begitu alasan kenapa sinetron Cahaya tidak perlu dibenci (Walaupun saya benci banget). Ada sanggahan?
