activo | asset management system

Friday, June 08, 2007

Iklan Warta Kota yang Pas

Nonton empat mata tadi malam, ada yang cukup menarik perhatian. Bukan bintang tamunya, bukan Tukulnya, tapi salah satu iklan di commercial break. Iklan apakah itu?
a.Tolak angin
b.Warta kota

Jawabannya adalah yang...


beee…
(ngomongnya sampai muncrat)

Saya baru ngeh kalau iklan
tipi warta kota tuh ternyata ok juga.
Kalau boleh kasih kelas untuk koran seperti ini:
Kelas 1 : kompas, Koran Tempo, Sindo
Kelas 2 : Warta kota, pos kota
Kelas 3 : Lampu Merah

Maka untuk koran yang beriklan di
tipi adalah seperti ini :
Kelas 1 : Kompas, warta kota
Kelas 2 : Sindo
Kelas 3 : - (ga ada lagi yang ngiklan di
tipi)

Iklannya itu pas banget. Tukang ojeknya pas yang jelek. Motor yang digunakan pas yang sudah tua. Pencahayaannya pas yang agak gelap(suram) sehingga menunjukan tingginya polusi udara di Jakarta. Dan tokoh yang ditampilkan juga pas karena menggambarkan orang kelas bawah.

Beda jauh lah sama iklan koran Sindo. Iklannya banyak, tapi ga ada yang mutu. Si Mali berantem sama Sayuti lah, ngajarin orang baca koran yang dibawakan Tantowi Yahya lah, si Petruk dan Dirly beli koran lah. Halah… (komentar ini juga ga mutu, halah…)

Mengingat segmen Warta Kota adalah masyarakat kelas menengah kebawah, apakah dengan beriklan di
tipi maka Warta Kota berusaha masuk ke semua lapisan masyarakat ibukota? Mungkin dengan beriklan sebagus ini bisa dijawab iya.

6 comments:

  1. Ada kok koran lainnya yang beriklan. Suara Pembaruan, trus apa itu yang ada Bisnis-nya, Jakarta (atau Jawa?) Post, sama koran Medan (lupa).

    Gak mantengin tipi mulu, tapi kok ya kebetulan dapet aja iklan koran :)

    Waks? Sindo koran 'kelas 1'? Jauh deh ama Kompas, Di :p

    ReplyDelete
  2. #Lita :
    Oh iya yah.. lupa saya. Tapi tulisan ini sebenernya mau ngejelei iklan koran sindo aja...

    ga deng, ga kok... maap...

    *dzigx*

    Sindo cuma buat jadi perbandingan aja. sebab kalau semuanya disebut, tar jadi panjang. Pasti nanti yang baca pada males. Tul ga penonton??

    Mengenai pengkelasan, sori kalau Sindo sekelas dengan Kompas. Sori yah Kompas. Sindo memang jelek kok, tapi kembali lagi, ini hanya untuk perbandingan saja. Jes for laf, jes for fan, nating moor.

    ReplyDelete
  3. Kalo baca Kompas berat nggak bisa disambi apa-apa, seharian juga ngga bakal habis bacanya. Kalau koran kuning macam Warta Kota, Headline kalau ngga "serem" ya... "Syurrr"

    ReplyDelete
  4. lhoh bukannya klo mau cari rumah ato mobil , siapa saja dari kelas apa saja malah nyarinya di warta kota?
    eh... bentar-bentar... warta kota apa pos kota ya?
    *maklum, wong ndeso... nggak tau yang mana ah korannya*

    ReplyDelete
  5. Kalau soal Tukul nya, ulasan di kontan no.36-XI minggu ke II Juni 2007 hal 22 menjelaskan bahwa kesuksesan Tukul karena menggunakan Blue Ocean Strategy.

    Hebat ya Tukul, jangan-jangan dia sendiri nggak tahu, kalau strategi dia merupakan blue ocean strategy.

    ReplyDelete
  6. #La mendol
    Koran kuning? jadi inget buku telpon. Lagian, kompas kok dibaca semua. Yang penting2 aja kali. Yang diminati aja. Saya kalau hari minggu, yang dibaca paling dulu adalah Beni & Mice.

    #Ruth
    Wong ndeso kenal warta kota-pos kota? dah lama dijakarta dong? kl gitu dah ga wong deso dong. wong kuto.

    #edratna
    mengenai blue ocean, saya pernah nyinggung tuh disini : 7 in 1 strategy

    ReplyDelete

Komentar Terbaru