activo | asset management system

Thursday, February 02, 2012

Belajar budaya barat dan timur dari hypermarket Giant dan Carrefour

Jika anda sering berbelanja di hypermarket Giant, anda pasti akan mendapati barang-barang dagangan yang dihargai diskon dan yang didiskon tersebut adalah barang dagangan yang sebentar lagi akan expired. Lalu, jika anda juga sering berkunjung ke hypermarket Carrefour, anda akan jarang menemui barang yang didiskon karena akan expired. Di Carrefour, barang dagangan akan dihancurkan jika memang akan expired.

Dari sini, kita bisa melihat 2 budaya yang mencolok. Budaya apa? Budaya perlakuan barang sisa. Carrefour berasal dari Perancis. Sedangkan Giant berasal dari Malaysia. Sudah menjadi hal biasa, dinegara Melayu, atau dilingkungan kita sendiri, segala sesuatu kalau bisa tidak dibuang, ya jangan dibuang dulu. Almarhum bapak saya, sering mengomeli saya kalau makan nasi, harus habis. Tidak boleh sisa. Itu artinya, nasinya sayang kalau dibuang. Tapi kalau kita menyaksikan film-film barat, sering kita lihat sisa makanan yang dibuang saja ke tempat sampah, tanpa dihangati lagi lalu disimpan dilemari kulkas.

Budaya ‘sayang kalau dibuang’ oleh Giant memang bagus. Tapi hal ini bisa menjadi bumerang. Bumerang bagaimana? Boomerang bagi penjualan mereka sendiri. Jika Giant sering melakukan promosi seperti ini, bisa jadi karyawan-karyawannya akan ogah-ogahan bekerja untuk mencapai target. Karena kalau mencapai target, akan tidak ada barang yang tidak laku sehingga promosi diskon karena mau expired akan menjadi berkurang. Jadi, dengan mereka ogah-ogahan bekerja, maka akan banyak barang dagangan yang otomatis di diskon lalu mereka beli sendiri untuk keperluan keluarganya sendiri.

Komentar Terbaru