activo | asset management system

Tuesday, July 24, 2007

Malnya Kok Sepi Yah?

“Wah, Senayan City gede juga yah. Nih kalau di Bandung dah paling gede loh.” Seru Ruth.

“Masak sih? Nih masih belum gede loh. Kalau mau tau yang lebih gede lagi, kamu coba deh ke Mal Artha Gading. Itu mal, ya ampun, gede banget. Paling gede katanya di Indonesia.” Timpal saya.

“Iya, aku juga dah pernah kesitu. Sampai nyasar.”

“Iya. Aku awal-awal kesana juga nyasar. Tapi setelah beberapa kali kesitu, dah jadi tahu sih.” Agak sombong sedikit, gak mau kalah. “Dan sangking gedenya, itu mal jadi kelihatan sepi pengunjung, hihihi…”

Kira-kira begitulah sepenggal perbincangan saya dengan Ruth saat mengunjungi Senayan City jumat kemarin dan menikmati suguhan indahnya desain arsitektur dari mal yang mengklaim sebagai mal kelas satu dan mal termewah di Jakarta.

Sayangnya, suguhan keindahan dan kemegahan Senayan City tidak diiringi dengan banyaknya pengunjung. Hari jumat malam, jadwalnya mal bertanding menarik pengunjung, Senayan City malah adem anyem saja. Pengunjung food courtnya juga tidak sebanding dengan jumlah pengunjung food court mal diseberangnya, Plaza Senayan.

Kenapa Senayan City bisa sepi pengunjung?

Menurut pengakuan salah satu tenant Senayan City, Hary Murti, General Manager It’s A Café, berdasarkan majalah BusinessWeek 11 Juli 2007, mengungkapkan gerai yang dikelolanya belum mampu mendatangkan pengunjung sesuai target yang telah dipatok. Sejak dibuka November tahun lalu, kafe yang merupakan anak usaha dari perusahan rokok Sampoerna itu mengalami ketimpangan pengunjung antara hari kerja dan weekend. Pada weekday, hanya 30-40 orang yang mampir perharinya. Di akhir minggu jumlahnya sekitar 80-100 pengunjung. Hary menunjuk belum selesainya pembangunan hotel, apartemen, dan gedung kantor di lingkungan Senayan City sebagai biang masih sepinya pengunjung. Dia percaya kalau keduanya sudah selesai dan dibuka, lonjakan pengunjung akan terjadi. Tapi apa iya?

Beberapa bulan yang lalu, kebetulan saya mendapatkan tawaran menarik dari ATM Permata Bank diskon 20% makan di Frankfurter butik Mal Belagio di daerah Mega Kuningan. Butik mal Belagio menyatu dengan apartemen Belagio. Dekat situ juga banyak gedung perkantoran seperti kantor operator seluler XL, gedung Rajawali, gedung Bank Danamon. Tapi bagaimana nyatanya? Butik mal Belagio seperti aula kampus yang sedang Ujian Akhir Semester. Sepi sekali. Sungguh mengerikan bagi para tenant-nya. Mengerikan karena tiap malam jantung mereka berdetak kencang apakah modalnya bakalan balik atau tidak.

Salah satu mal yang beruntung karena selalu ramai adalah Cilandak Town Square(Citos) yang dibuka tahun 2002. hingga saat ini, berdasarkan BusinessWeek, jumlah kendaraan yang mendatangi Citos stabil 175.000 kendaraan perbulan. Konsep yang dipakai oleh Citos bukan sebagai shopping mall melainkan lifestyle mall. Mungkin konsep ini yang menjadikan Citos sukses. Tapi sialnya, mal yang juga mengusung konsep lifestyle mall, yaitu Setiabudi One, bernasib sama seperti Senayan City maupun mal Belagio, jumlah pengunjungnya biasa-biasa saja.

Sebagai pengunjung, pastinya saya tidak bisa berbuat apa-apa. Perasaan kasihan kepada para pemilik gerai pasti bermunculan saat pelayan menawarkan menu makanan atau barang dagangan tapi tidak berhasil menggaet mangsanya. Bahkan kadang-kadang, para pelayan suka menjadi ‘galak’ hingga saya sendiri jadi suka risih melihatnya.

Yang pasti, saya Cuma bisa berharap, para pengelola mal harus bisa lebih pintar lagi untuk menentukan konsep mal, segmentasi pengunjung, penyediaan fasilitas-fasilitas gratis seperti hotspot gratis atau krembath gratis atau pedicure/menicure gratis atau nyemir sepatu gratis dan gratis-gratis lainnya yang banyak orang bisa mendapatkannya sehingga mereka(dan saya) jadi merasa berhutang dan mau membelanjakan sedikit uang di gerai-gerai yang telah menyewa lapak mal-nya.

8 comments:

  1. belum pernah tuh ke Senayan City, Mall Artha Gading...maklum saya kan dari kampung Surabaya,...jadi juaauaauuuuuh banget kalo mau kesana

    ReplyDelete
  2. sepi ? Nggak heran mall di Jakarta khan buanyaaaaaakkk. persaingan cukup sengit. Kalau mo rame ya harus sering ngadain event dan punya dukun yang kuat. Gimana ???

    ReplyDelete
  3. Sepi ato rame relatif kali ya? Rame tuh yang desek2an kayak Mangga dua? Mungkin karena gede, makanya jadi kayak sepi..
    So far sih gue kalo ke Senci hari biasa emang relatif lebih sepi, tapi kalo hari Sabtu/Minggu, parkir aja susah!
    Makanya gue suka ke Senci hari biasa aja, jadinya kan nyaman!

    ReplyDelete

  4. @anisa:
    Emangnya dah pulang ke surabaya bu? Bukannya masih di Jepun?

    @amanda:
    event belum tentu jadi jaminan kalau PR-nya loyo. Artinya, diadakan event sebesar apapun tapi ga tepat sasaran juga percuma.

    Kalo soal Dukun, hmmm... ga ada yang tau juga ada yang pake ato nggak, musti tanya langsung ke dukun2 apakah banyak pebisnis atau pemilik mal yang pakai jasa mereka. hehe...

    ReplyDelete
  5. kalau malem minggu Senayan CIry lumayan rame kok, terutama di food courtnya. kalo di lt 1 yg isinya designer boutiques ya ga bakal rame, orang harga barangnya sama ama gaji sebulan :P.

    di Bandung rata2 mal masih rame ya, terutama wiken.

    ReplyDelete
  6. kalo aku seh , males ke sensi karna suka tiba-tiba sakit kepala dan sakit hati berbarengan..barang2nya bikin ngiler tapi gag mampu beli xixixixi...btw, salam kenal yah :)

    ReplyDelete
  7. Wahh...belum pernah tuh...senengnya ke PIM I dan II, atau Citos yang dekat rumah, nggak pake macet lagi.

    ReplyDelete
  8. Saya malah lebih suka mall yang masih lengang, kayak Grand Indonesia. lebih cozy kalo nongkrong di sini.
    Apalagi tiket parkirnya masih gratis hehehe..

    ReplyDelete

Komentar Terbaru