activo | asset management system

Monday, January 21, 2008

Kamu Sudah Lama Di Jakarta Ketika... (Bagian 2)

{Versi Jalan Raya Jakarta}

6.
Mengendarai motor, lalu menabrak mobil, kamu langsung berdiri dan menuntut si pengendara mobil walaupun dirimu yang salah. Ini memang sudah hukum alam jalanan di Jakarta. Biarpun salah, tetap saja motor yang menang karena merasa motor adalah mahkluk lemah.

7. Mengendarai motor atau mobil, kamu sudah tahu tikungan atau belokan yang harus dilalui tanpa harus melihat penunjuk jalan. 50% lebih penunjuk jalan di Jakarta terpampang tepat di tikungan. Ini memang menjengkelkan. Kenapa? Karena akan menyulitkan pengendara yang belum mengenal jakarta untuk menentukan arah. Sudah mengambil posisi agak ke kanan, dan melihat rambu ke Kelapa Dua ada tepat di persimpangan, sedangkan untuk ke Kelapa Dua harus belok kiri, otomatis kamu harus pelan-pelan memotong jalur kendaraan lainnya untuk bisa belok kiri.

8. Mengalami kecelakaan, namun kamu tidak terluka parah dan masih sadar, kamu buru-buru mencari hp atau dompet kamu yang jatuh dari kantong, lalu menyimpannya kembali. Di Jakarta, penjahat itu bisa siapa saja. Dan mereka tidak peduli orang itu mengalami kecelakaan parah atau tidak. Yang penting, ada barang berharga, disikat dulu. Baru diselamatkan orangnya. “Lumayan buat dijual trus uangnya dipakai buat beli sesuatu.”

9. (Lagi) Kamu mengalami kecelakan dan tidak ada orang lain yang menolong kamu. Ini benar-benar sering terjadi. Ketika ada kecelakaan, para pengendara motor atau mobil hanya menoleh saja. Tidak berhenti dan menolong. Dan ini memang menggelikan. Katanya negara yang agamis, tapi kok cuek. Katanya negara gotong-royong, tapi kok cuek. Katanya negara berperikemanusiaan dan berkeadilan sosial, tapi kok cuek. Ironis kan?

10. Harus waspada, kalau biasanya jalan macet kok tiba-tiba sepi, berarti ada sesuatu didepan sana... Bisa ada demo, bisa jalanan memang ditutup oleh polisi dalam rangka hari udara bersih. Atau sebaliknya... Bisa berarti anda sudah lolos dari kemacetan. (dari komen Ibu Enny ditulisan sebelumnya)

Foto: Didats.Net

Komentar Terbaru