activo | asset management system

Tuesday, April 14, 2009

Termehek-mehek: Reality Show Yang UnReality

Blogger Nofie Iman pernah menulis begini:
Memang bisa dimaklumi kalau uang lagi-lagi jadi alasan. Rumah produksi ingin membuat acara berbiaya rendah tapi laku keras. Orientasi komersial jadi prioritas ketimbang kualitas acara. Karenanya wajar jika sinetron dan (un)reality show masih menjadi primadona. Sekali sinetron digemari, sekuelnya segera dibuat—-karena risikonya lebih kecil daripada harus membuat judul baru. Ketika Playboy Kabel dianggap sukses, maka Katakan Cinta, Truk Cinta, Cinta Monyet, Mak Comblang, Cinta Lokasi, Backstreet, Pacar Pertama, Harap-harap Cemas, Termehek-mehek, dan sebagainya langsung mencuat.

Saya ingin menggarisbawahi kata-kata ini: Karenanya wajar jika sinetron dan (un)reality show masih menjadi primadona.

Tahukah anda kalau Termehek-mehek, acara Reality Show yang mendapat penghargaan itu ternyata oh ternyata 70%-nya adalah rekayasa?

Benar sekali kawan. Kemarin, ketika makan siang, teman saya cerita kalau temannya yang bekerja di sebuah televisi swasta nasional mengungkap bahwa 70% orang yang mencari tokoh yang hilang diacara Termehek-mehek itu tidak pernah diketemukan. Alhasil, dibuatlah rekayasa seolah-olah ditemukan.

Sebetulnya saya tidak ingin percaya. Karena bisa mengurangi rasa nikmat kala menonton Termehek-mehek. Tapi, setelah dipikir-pikir kembali, ada benarnya juga. Kalau disetiap acara selalu ada drama pertengkaran, apakah budaya kita seperti itu? Rasanya terlalu dibuat-buat.

Hmmm... Melihat gelagat ini, rasanya sudah sepatutnya saya tidak lagi angkat topi pada rumah produksi reality show. Selama ini saya selalu mengangap kisah acara reality show adalah benar adanya. Ternyata, seperti yang Nofie Iman bilang, acara REALITY SHOW di televisi swasta nasional adalah acara UNREALITY SHOW... (UN-nya sudah tidak perlu dikurung lagi!)

Komentar Terbaru